Sharing is caring!

Advertisement

Apa itu tantrum pada anak?

Tantrum artinya luapan emosi yang dirasakan oleh anak-anak dan ditunjukkan dengan menangis kencang, melempar barang, hingga berguling-guling di lantai. Tantrum pada anak mulai muncul ketika anak berusia di atas 15 bulan. Umumnya tantrum pada anak terjadi karena mereka belum bisa menyampaikan kepada orang tua mengenai apa yang mereka inginkan melalui kata-kata. Di sisi lain, orang tua juga tidak bisa memahami keinginan anak. Akhirnya emosi anak meluap dan terjadilah tantrum.

Mengatasi tantrum anak adalah hal yang cukup sulit. Apalagi ketika harus terus bersikap tenang di depan anak yang sedang tantrum. Banyak orang tua yang akhirnya ikut emosi ketika menghadapi anak tantrum. Ada juga orang tua yang akhirnya memukul atau memarahi anak karena tidak tahan dengan tantrum pada anak. Padahal tantrum sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi pada anak dan merupakan bagian dari tumbuh kembang emosi anak.

strategi menghadapi tantrum pada anak

Sumber: Photo by Mick Haupt on Unsplash

Bagaimana strategi menghadapi anak tantrum?

Anak yang sedang tantrum sebenarnya sedang merasakan emosi yang meledak-ledak. Jadi, akan cukup sulit meminta mereka langsung diam. Coba tempatkan diri Anda di posisi anak. Ketika sedang kesal, marah atau menangis lalu seseorang meminta Anda untuk langsung diam, bisakah Anda melakukannya?

Anak kecil belum memiliki pengalaman untuk mengendalikan emosi mereka seperti orang dewasa. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa tantrum pada anak adalah hal yang wajar.

Berikut adalah beberapa strategi menghadapi anak tantrum.

1. Bersikap tenang

Sehebat apa pun anak tantrum, orang tua harus tetap memperlihatkan sikap tenang. Anak akan merasa lebih rileks ketika melihat orang tua bisa menunjukkan sikap tenang dan penuh percaya diri.

Ketika anak tantrum, mereka juga tidak akan mendengar kata-kata kita. Jadi, lebih baik untuk membiarkan mereka dan menunggu hingga mereka lelah. Namun, jika kita ingin berbicara kepada anak yang sedang tantrum, gunakan kata-kata pendek dan langsung pada intinya. Contohnya, “Kamu kesal ya? Capek?”

Tetaplah berada di dekat anak, sehingga ketika ia membutuhkan kita, kita bisa langsung mendekatinya. Contohnya, ketika mereka akan membuang sesuatu, orang tua bisa bilang, “Letakkan benda itu.” dan kemudian ambil barang tersebut.

2. Berikan nasihat di saat itu juga

Anak-anak perlu dinasihati segera setelah mereka melakukan kesalahan. Jika tidak begitu, mereka akan lupa dan tidak akan belajar dari kesalahan yang diperbuat. Termasuk juga ketika mereka tantrum. Anak-anak umumnya akan lupa tentang alasan mereka tantrum. Oleh karena itu ,penting bagi orang tua untuk memberikan nasihat di saat yang tepat ketika anak tantrum.

Advertisement

Orang tua bisa bilang ke anak, “Hentikan itu. Nanti kamu terluka.” Jika anak berada di kondisi di mana mereka bisa berhenti, mereka pasti akan mendengarkan dan berhenti. Namun, ada juga anak yang tidak mendengarkan. Jika itu yang terjadi, orang tua bisa memberikan waktu ke anak untuk meluapkan emosinya.

Ketika tantrum pada anak sudah selesai dan nasihat sudah diberikan, kita tidak perlu mengungkitnya lagi. Kita hanya perlu membuat kesepakatan dengan anak agar lain kali tidak terjadi hal yang sama lagi.

3. Berada di dekat anak

Beberapa orang bilang untuk mengacuhkan tantrum pada anak. Sebetulnya hal ini tidak sepenuhnya tepat. Mengacuhkan anak yang sedang tantrum hanya akan membuat mereka berpikir bahwa kita tidak peduli kepada mereka.

Akan lebih baik jika kita tetap berada di dekat mereka sambil mengawasi. Berikan juga kata-kata yang membuat mereka tahu bahwa kita tetap peduli kepada mereka, seperti “Kalau kamu mau sesuatu, bilang saja.” Biasanya anak-anak akan cepat tenang ketika mereka tahu orang tuanya berada di dekat mereka.

BACA JUGA: Mengenali Kecemasan Pada Anak Berdasarkan Usia

4. Pahami perasaannya

Hal yang sering terjadi ketika anak tantrum adalah membuat anak malu.

“Anak laki-laki tidak boleh nangis.”
“Gitu aja nangis.”
“Cengeng.”

Mengecilkan perasaan mereka seperti itu hanya akan membuat anak takut untuk mengekspresikan emosi mereka. Mereka akan cenderung menjadi pribadi yang tertutup. Hal ini juga akan menurunkan kepercayaan diri mereka.

Orang tua sebaiknya mencoba memahami perasaan anak. Berikan juga pemahaman bahwa merasakan perasaan dan emosi adalah hal yang wajar. Ajak mereka untuk bisa menerima apa yang sedang mereka rasakan, bukannya menekan dan mengacuhkan perasaan mereka. Atau bahkan membuat mereka malu.

5. Ingat bahwa perilaku adalah media komunikasi

Ingat bahwa tidak semua anak bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan dengan kata-kata. Alih-alih menggunakan kata, mereka akan memperlihatkan sikap mereka terhadap apa yang mereka rasakan.

Coba perhatikan dan pahami ketika anak tantrum. Apakah anak lapar, mengantuk, atau lelah. Umumnya mereka akan menunjukkan sikap kesal dan cepat marah ketika mereka sedang berada di situasi tersebut.

Jika kita bisa memahami perilaku anak, misalnya ketika anak lapar, kita bisa menawarkan sesuatu kepada mereka. “Adek lapar? Mau minum susu?”

BACA JUGA: 7 Cara Efektif Mengajar Anak Membaca

Advertisement

Sharing is caring!