Sharing is caring!

Advertisement

Peristiwa dalam Cerita Bunga Paling Berharga

Sumber: Photo by Vladimir Yelizarov on Unsplash

Apa saja peristiwa-peristiwa dalam cerita Bunga Paling Berharga? Kita akan membahasnya bersama di artikel ini. Begitu juga dengan urutan peristiwa cerita Bunga Paling Berharga.

Peristiwa-peristiwa dalam cerita Bunga Paling Berharga

  1. Bu Mala memberi sebuah buku kepada setiap siswanya.
  2. Hujan deras membasahi desa Makale dan membuat benih yang terkubur tumbuh.
  3. Bunga-bunga merah kecil bermekaran.
  4. Makale memetik bunga merah dan menyimpannya di bukunya untuk membuat herbarium.
  5. Bunga lain layu terbakar matahari.
  6. Bu Mala melihat herbarium buatan Makale.

Untuk mengetahui urutan peristiwa pada cerita Bunga Paling Berharga, kita baca dulu cerita di bawah ini ya.

Bunga Paling Berharga

Makale tinggal di sebuah desa yang selalu kekeringan. Hujan jarang turun di desa itu sehingga tidak banyak tetumbuhan. Jangankan bunga-bungaan, semak-semak pun jarang ditemui.

Suatu hari, sebelum berakhirnya pelajaran, Bu Mala memberi seluruh siswanya masing-masing sebuah buku tulis.

Buku tulis itu halaman-halaman dalamnya berwarna putih dan bersampul merah. Indah sekali.

“Buku tulis itu untuk kalian. Kalian boleh menulis apa saja di dalamnya,” kata Bu Mala.

“Saya mau menuliskan catatan harian di buku ini,” kata Nola.

“Saya mau menggambar wajah setiap orang yang saya temui,” kata Wendi yang hobi menggambar.

“Saya mau membuat herbarium,” kata Makale.

Bu Mala memandang Makale dengan penuh keheranan mendengar ucapan Makale.

“Kamu mau membuat herbarium?” tanya Bu Mala kepada Makale.

“Ya. Seorang pelancong pernah menunjukkan buku herbariumnya kepada saya. Herbarium itu sangat indah,” jawab Makakale.

“Tetapi, untuk membuat herbarium kamu akan membutuhkan banyak daun. Tahukah kamu?” tanya Bu Mala.
Makale menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Atau bunga…” “Di mana kamu akan mencarinya?” tanya teman-teman Makale.

Makale memandang keluar jendela. Tidak tampak tanaman sama sekali.

“Saya akan mendapatkannya,” kata Makale sambil tersenyum.

Advertisement

Hari berganti hari. Waktu berlalu dengan cepat. Buku tulis merah milik para siswa Bu Mala telah berisi berbagai cerita, gambar, dan foto. Hanya buku tulis Makale yang masih kosong.

Baca juga:

Pada suatu hari, sebuah awan hitam berhenti di atas desa tempat tinggal Makale. Tak lama kemudian awan hitam itu mencurahkan hujan yang sangat deras. Benih-benih tumbuhan yang terkubur di dalam tanah tandus desa itu pun tumbuh. Sepetak kebun terbentuk. Bunga-bunga merah kecil memenuhi petak kebun itu.

Makale senang. Dipetiknya sekuntum bunga merah. Hanya satu. Kemudian, ditempelkannya bunga itu di dalam buku tulis merahnya. Hari berikutnya, bunga-bunga lainnya telah layu karena terbakar matahari.

Di dalam kelas, Makale berseru dengan gembira.

“Saya sudah membuat herbarium saya, Bu Mala.”

Bu Mala membuka buku tulis merah Makale. Herbarium itu hanya satu halaman. Hanya ada satu bunga di dalamnya. Namun, bunga itu paling berharga di dunia karena hanya mekar sehari dalam setahun.

Disadur dari “52 Dongeng di hari Kamis”; Jakarta: BIP.

Herbarium adalah suatu koleksi spesimen tumbuhan yang diawetkan berikut data terkait yang digunakan untuk keperluan penelitian ilmiah.

Urutan Peristiwa dalam Cerita Bunga Paling Berharga

Sudah selesai membaca cerita di atas? Menarik bukan? Apakah kamu terinspirasi untuk membuat herbarium? Sekarang kita review lagi urutan peristiwa cerita Bunga Paling Berharga yuk!

  1. Bu Mala membagikan sebuah buku bersampul merah kepada siswa-siswanya dan menyuruh mereka menulis apa saja di dalamnya.
  2. Nola ingin menuliskan catatan hariannya di buku tersebut.
  3. Wendi ingin mengisinya dengan gambar wajah orang yang ditemuinya.
  4. Makale ingin membuat herbarium.
  5. Bu Mala menanyakan Makale tentang keseriusannya membuat herbarium karena dia membutuhkan banyak bunga, sedangkan di desa tersebut tidak ada bunga.
  6. Setiap siswa sudah mengisi bukunya, tapi hanya buku Makale yang masih kosong.
  7. Awan hitam datang dan menumpahkan hujan di desa.
  8. Benih tumbuh dan bunga merah bermekaran.
  9. Makale memetik satu bunga merah dan menempelkannya ke dalam buku.
  10. Makale menyerahkan herbariumnya kepada Bu Mala dengan gembira.
  11. Bu Mala melihat herbarium Makale.

Advertisement

Sharing is caring!