Sharing is caring!

Advertisement

Yuk kita baca sebuah cerita fiksi Kasuari dan Dara Mahkota yang berasal dari Papua. Cerita Kasuari dan Dara Mahkota termasuk cerita rakyat yang berjenis fabel. Kenapa disebut fabel? Alasannya karena karakter atau tokoh di dalam cerita adalah hewan, yaitu burung.

Jika kamu ingat, cerita fabel adalah cerita dengan tokoh-tokoh binatang yang hidup, berbicara, dan bermasyarakat seperti manusia. Cerita fabel juga biasanya mempunyai pesan moral yang bijak untuk disampaikan kepada para pembaca.

Baca juga: Perbedaan Cerita Fiksi dan Non Fiksi

Kasuari dan Dara Mahkota

Kasuari memiliki badan besar dan sayap lebar. Dia mampu terbang tinggi. Namun, Kasuari amat serakah. Dia memetik banyak sekali buah yang telah masak. Buah-buahan itu disembunyikan di bawah sayap- nya sehingga burung-burung lain tidak kebagian. Burung-burung lain mengetahui keserakahan Kasuari. Oleh karena itu, tidak seekor burung pun mau berteman dengannya. Meski demikian, Kasuari tidak memedulikannya.

Lama-kemalaan Kasuari semakin serakah. Tidak hanya buah-buahan di pohon saja yang diambilnya, tetapi juga buah-buahan yang jatuh ke tanah. Burung-burung lain pun jengkel. Mereka mencari cara agar Kasuari sadar dari sifat serakahnya.

kasuari dan dara mahkota

”Bagaimana jika lomba terbang? Siapa yang mampu terbang tinggi dan paling jauh, dialah pemenangnya. Kalau Kasuari kalah, dia tidak boleh mencurangi kita lagi,” usul Dara Mahkota.

”Siapa yang bisa melawan Kasuari? Badannya besar. Sayapnya lebar. Sekali mengepakkan sayap, dia pasti bisa terbang jauh. Kita tidak akan menang,” jawab Pipit pesimis.

”Ingat, kita harus menggunakan akal. Serahkan semuanya kepadaku. Aku akan melawannya dalam perlombaan ini,” kata Dara Mahkota sambil tersenyum. Dia berusaha meyakinkan teman-temannya.

Teman-teman Dara Mahkota saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Dara Mahkota yang bertubuh kecil dapat mengalahkan Kasuari yang besar?

kasuari dan dara mahkota

Advertisement

Dara Mahkota menyampaikan tantangannya kepada Kasuari. Kasuari menyetujui tantangan Dara Mahkota. Saat pertandingan tiba, semua burung hadir untuk menyaksikan.

Dengan sombongnya Kasuari menertawakan Dara Mahkota. ”Sudahlah, kamu menyerah saja daripada mendapat malu,” ejek Kasuari.

Dara Mahkota bergeming. ”Siapa yang tertawa belakangan, dia yang menang,” sahut Dara Mahkota.
Kasuari dan Dara Mahkota pun bertanding. Mereka melesat dengan kencang. Kasuari terbang cepat sekali. Sesekali Kasuari menoleh Dara Mahkota yang berada di belakangnya. Dia takut jika Dara Mahkota menyusulnya.

Saat asyik menoleh, tiba-tiba… BRAAK…. Kasuari menabrak batang pohon. Sebelah sayapnya pun patah. Semua yang hadir tertegun, tetapi Kasuari tak mau menyerah. Dia berusaha bangkit dan mengepak- ngepakkan sayapnya. Sayangnya, dia terus terjatuh dan menggelepar di tanah. Sementara itu, Dara Mahkota terus melesat jauh meninggalkan Kasuari.

kasuari dan dara mahkota

Sumber gambar: YouTube/Ms Murdi

Kasuari hanya dapat memandang Dara Mahkota dengan rasa malu. Sekarang dia baru tahu rasanya menjadi makhluk lemah. Selama ini dia selalu merasa menjadi burung terhebat. Namun, dalam sekejap dia tidak mampu terbang lagi.

Beberapa burung lain turun ke tanah. Mereka membantu Kasuari. Kasuari semakin malu karena selama ini dia telah mencurangi mereka.

Sejak saat itu, Kasuari sadar dan mengubah perilakunya. Namun sayang sekali, sejak saat itu pula Kasuari tidak bisa terbang lagi. Dia harus mencari makan di tanah.

Disadur dari: Dian K, 100 Cerita Rakyat Nusantara, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2014. 

Baca juga cerita fiksi lainnya:

Advertisement

Sharing is caring!